Jumat, 03 Maret 2017

Haji Selfie

Di Mekah dan Madinah, frekuensi selfie lebih tinggi daripada haji. Ruang komunikasi manusia dengan Tuhan dipangkas oleh "bagikan". 

Alih-alih berhaji, mereka justru jadi manusia mubazir. Ibadah bukan lagi sebagai kebutuhan ruhani tetapi sebagai pemuas gengsi dan kelas diri. Rasa-rasanya momen peribadatannya tak sempurna kalau tak diabadikan dan dibagikan ke khalayak ramai. Padahal publik sebenarnya tidak perlu-perlu amat dengan aktivitas mereka.

Sehingga yang ada: narsisme dibungkus dalam bentuk religius. Sekaligus penyakit jiwa narsisnya dispiritualisasi sebagai rukun tertinggi, yang paling ilahi. Ibadah sebagai perjalanan sunyi berubah menjadi fenomena haha-hihi.
Share:

Seonggok Jagung

Mengerti kehidupan tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Yang penting menghayati setiap persoalan dan mengetahui kebutuhan masyarakat.

Percuma sekolah tinggi-tinggi--jauh-jauh sampai ke luar negeri--kalau tak menyatu di dalam pergaulan masyarakat dan kehidupan. Sebab, meminjam larik sajak Rendra, "Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja [jika] ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: 'disini aku merasa asing dan sepi.'”
Share:

Sabtu, 18 Februari 2017

Anarkisme Ali bin Abi Thalib

"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia." (Ali bin Abi Thalib)

Kalimat di atas itu banyak dikutip di media sosial dan berbagai forum-forum akademis dan keagamaan. Tapi anehnya, mereka tak mampu membaca gejolak anarkisme yang terkandung di dalam kalimat itu. Faktanya, mereka masih saja berharap perubahan dan masih saja mau menggantungkan nasib hidupnya kepada presiden, DPR, gubernur, walikota, bupati, dan pejabat publik lainnya.

Pertanyaannya, apakah saya yang salah membaca makna atau mereka yang terlalu bermuka dua?
Share:

Selasa, 07 Februari 2017