Jumat, 10 Maret 2017

Negara Sebagai Kamp Pembantaian Akal Sehat

Idealnya, negara dibuat untuk menjaga daulat manusia yang notabene adalah hakikat ciptaan Tuhan.

Namun karena hasrat berkuasa yang terlalu keparat dan nafsu ingin menguasai yang luar biasa kuat, maka negara kemudian dijadikan sebagai kamp pembantaian akal sehat dan pengebirian nilai-nilai kemanusiaan hingga mencapai titiknya yang paling sekarat.
Share:

Perayaan Penipuan Atas Nama

Memang benar perkataan Leo Tolstoy bahwa negara adalah perampokan yang terorganisir. Lebih parahnya lagi, mereka merampok dengan cara merayakan penipuan atas nama.

Bisa kita saksikan sendiri: semakin negara, bangsa, rakyat diatasnamakan, semakin kedaulatan diteriakkan, di saat yang sama semakin korupsi disemarakkan, semakin kemiskinan dikembang-biakkan.
Share:

Kamis, 09 Maret 2017

Ucapan yang Hanya Bertujuan Pada Kekuasaan

Sebaik dan semanis apa pun sebuah perkataan, selama ia lahir dari mulut politikus, birokrat, pemerintah, anggota DPR, dan lain sebagainya, maka ragukanlah, jangan langsung dipercaya perkataan tersebut. Sebab ada muatan kekuasaan yang sangat besar di dalamnya: kekuasaan yang apabila ia dapatkan, kita (rakyat) dilupakan.

Setiap ucapan mereka-mereka yang disebut di atas itu hampir 99% mengandung dusta.
Share:

Rabu, 08 Maret 2017

Negara Cuma Milik Kaum Mapan

Negara adalah representasi dari kaum mapan. Maka citra negara adalah citranya kaum mapan. Tak peduli rakyat kecil (semakin bertambah yang) menjerit lapar dan mati terkapar. Negara akan tetap disebut sejahtera, negara akan selalu dikatakan merdeka, selama kaum mapannya sejahtera dan merdeka.
Share:

Senin, 06 Maret 2017

Memperjuangkan Keadilan adalah Bagian dari Komunisme

Berpihak pada kemanusiaan itu bagian dari komunisme. Memperjuangkan keadilan itu bagian dari komunisme. Keadilan sosial itu cita-cita tertinggi komunisme. Maka komunisme itu untuk dipelajari, didalami, dan diamali, kalau ada yang keliru dan kurang sesuai dengan realitas sosial teritorialmu maka dievaluasi, direvisi, dan diperfeksi. Bukan justru tanpa dasar pengetahuan apa-apa langsung memusuhi, menganti-anti, dan mencaci-maki.

Belajar itu mengutamakan otak, bukan otot. Bahkan bagi olahragawan sekalipun. Sebab belajar itu untuk mengetahui mana benar dan salah, mana tepat dan keliru, setelah itu baru otot menyesuaikan kemudian. 

Sudahkah anda minum otak hari ini?
Share: