Ada ikatan yang lebih penting ketimbang hubungan darah, ialah cinta; perasaan universal yang menembus batas-batas suku, agama, ras, golongan, wilayah, negara, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain.
Senin, 28 Agustus 2017
Jumat, 25 Agustus 2017
Rakyat Terus yang Menjadi Korban
Yang menyedihkan dari kehidupan bernegara adalah rakyatnya. Sebab mereka tak pernah diperjuangkan nasib hidupnya oleh pejabat, penguasa, dan politisi-politisinya namun dipaksa-diseret menanggung beban permasalahan demi permasalahan yang sesungguhnya tidak mereka mengerti dan pahami.
Rakyat dimanipulasi kesadarannya untuk meyakini bahwa perubahan itu datang dari satu dua orang penguasa. Mereka lupa bahwa pergantian penguasa itu hanya soal pergantian wajah dan corak kekuasaan saja tetapi outputnya sama: rakyat terus yang menjadi korban.
Politisi adalah Penipu yang Dilegitimasi Negara
Politisi tak pernah membahas dan menyelesaikan masalah rakyat. Mereka cuma mengurus kepentingannya masing-masing. Rakyat hanya sekadar statistik penunjang legitimasi; hanya alat untuk mewujudkan kepentingan kekuasaan. Sejatinya bagi politisi, rakyat bukanlah subjek yang harus diperjuangkan melainkan objek untuk mencapai kekuasaan.
Politisi adalah penipu yang dilegitimasi negara. Memercayai omongan mereka sama dengan menuruti hasutan setan.
Cinta Tak Bisa Direncanakan
Menikah itu tidak ada teorinya, maka itu, takkan kau dapati di universitas atau sekolah tinggi manapun. Menikah itu praktik langsung di atas kenyataan. Sedangkan mencintai bukanlah tentang teori atau praktik. Mencintai itu tanpa kata-kata dan tak perlu banyak gaya. Ia soal kemisteriusan rasa. Rassaaa!
Selain itu, menikah dan mencintai tak selamanya harus berbarengan-beriringan. Orang yang menikah belum tentu saling cinta. Dan orang yang saling mencintai pun tak semuanya (bisa) menikah. Mengutip kalimat “franchise” Sujiwo Tejo: “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.”
Perasaan yang Belum Ternamai
Di dalam hidup ini masih banyak perasaan yang belum diberi nama. Dan manusia kadang tak perlu kamus untuk memahaminya. Bahkan ada perasaan-perasaan tertentu yang untuk dipahami pun tak bisa. Ia hanya bisa dinikmati secara dan oleh rasa itu sendiri.