Minggu, 21 Januari 2018

Perbedaan adalah Legitimasi Mutlak Kebudayaan

Keberagaman budaya, pergaulan, iklim, sejarah, kondisi alam, dan lain-lain menyiratkan bahwa setiap nilai (baik pengetahuan maupun keyakinan) yang dihasilkan oleh suatu kaum (kelompok) akan saling berbeda antar-satu dengan lainnya. Kalau kata Yuval Noah Harari, kebudayaan yang berbeda-beda akan menghasilkan kebaikan dan kebenaran yang berbeda-beda pula.
Share:

Sabtu, 20 Januari 2018

Yang Utama bukan Banyak Tahu atau Kurang Tahu

Sejatinya dalam hidup ini yang utama itu bukan banyak tahu atau kurang tahu. Tapi bagaimana cara kita menyikapi kenyataan hidup itu sendiri. Banyak tahu atau kurang tahu akan menjadi percuma bila cara kita menyikapi kehidupan kurang bijaksana, kurang dewasa, tak mengenal konteks, konyol, blunder, dan penuh ketergesah-gesahan.
Share:

Jumat, 19 Januari 2018

Tak Segala Hal di Dunia ini Harus Diketahui

Tak segala hal di dunia ini harus diketahui. Isi hati suami/istri, misalnya, kalau sampai diketahui bisa mengakibatkan ribut rumah tangga setiap saat. Akhirnya: pernikahan takkan awet, gampang bubar, dan sebagainya.

Maka, yang perlu dijadikan pegangan adalah bahwa dalam hidup ini memang ada hal-hal yang tak harus diketahui, bahkan akan lebih baik jika tidak diketahui. Biarkan saja jadi milik rahasia. Pasrahkan saja pada Tuhan.
Share:

Kamis, 18 Januari 2018

Tak Semua Hal itu Penting

"Sesuatu itu penting ketika sesuatu itu menjadi sesuatu yang penting." (Bertolt Brecht)

Hari-hari ini, kita perlu merenungkan aforisme Bertolt Brecht di atas. Agar kita tak sembarang menganggap penting segala sesuatu. Sebab di dalam lalulintas informasi yang masif seperti sekarang, banyak orang yang menganggap bahwa segala hal itu penting. Bisa kita saksikan, segala informasi yang ada, seremeh apa pun, tetap saja diperdebatkan dan dijadikan sebagai pemantik keributan.

Kalau kita telusuri, hal itu disebabkan oleh ketidakmampuan kita dalam mengategorikan informasi, sehingga membias dan rancu, segala hal kita anggap penting. Contohnya, artis yang melepas jilbab kita sikapi bak runtuhnya kakbah. Orang berebut jabatan kita anggap sebagai soal pertaruhan kedaulatan diri kita. Kejadian sering salah ngomong oleh seorang wakil gubernur lebih kita anggap penting ketimbang sistem hukum yang hancur. Persoalan personal artis dan fenomena politik praktis lebih kita anggap penting ketimbang pencurian kekayaan alam dan kerusakan ekologi. Jadinya absurd.

Kita seperti orang gelagapan di tengah laut yang alih-alih mencari pelampung, justru malah mendapat tempurung. Jadi mari kita belajar memetakan masalah. Bedakan mana yang lebih penting untuk dijadikan pembahasan dan mana yang hanya layak ditaruh di tempat pembuangan.
Share:

Rabu, 17 Januari 2018

Kalau Saya Bilang Orang Lain Bodoh Sebenarnya Saya Lebih Bodoh

Kalau saya bilang orang lain bodoh, sebenarnya saya lebih bodoh. Karena itu artinya saya belum mampu menyampaikan pesan dengan tepat agar diterima. Kalau saya menyebut orang lain bodoh, itu berarti saya belum bijaksana dalam mengendalikan diri saya sendiri.

Karena orang yang pandai, bagi saya, adalah mereka yang mampu menyampaikan pandangan yang berbeda kepada orang lain tanpa membikin/menambah konflik yang sudah ada.
Share: