Orang yang punya banyak uang belum tentu kaya. Sebab kaya-miskin itu bukan sekadar punya uang, tetapi juga tentang sikap mental dan cara pandang atas dunia.
Selasa, 11 Juni 2019
Hidup Tetap Berlangsung meski Negara Tidak Ada
Konsep negara (modern) baru berlangsung 3-4 abad terakhir, cuma seujung kuku jika dibandingkan dengan usia kehidupan spesies manusia yang sudah jutaan tahun. Tapi anehnya, baru sekarang banyak orang merasa bahwa politik praktis (baca: pemilu-pemiluan) dianggap sebagai hidup-matinya peradaban. Seolah-olah kalau tidak ada negara, tidak ada pemilu, peradaban akan runtuh, dunia akan kiamat. Padahal kalaupun saat ini semua negara di dunia bubar, besok matahari akan tetap terbit dari ufuk timur.
Beragama Secara Sempit
Ada kelompok manusia yang beragama hanya untuk sibuk berdebat soal salat Subuh harus pakai kunut atau tidak; pakai celana harus di atas mata kaki atau tidak; jidat harus hitam atau tidak; zakat fitrah boleh dengan uang atau tidak; dan hal-hal sejenisnya boleh atau tidak—hingga akhirnya mereka lupa memberi makan anak yatim, menebar cinta kasih kepada sesama, dan tidak turut serta menjaga harta, nyawa, dan harga diri orang-orang di sekitarnya ....
Selasa, 28 Mei 2019
Kolor Kotor
Orang yang belum memahami kompleksitas perasaan manusia akan mudah menghakimi orang lain sebagai tukang selingkuh, pelakor, lonte, lelaki mata keranjang, dsb., dst....
Mereka cuma bergumul di kulit, tak menyelam ke daging, sumsum, hingga jejaring paling halus dalam tubuh.
Senin, 27 Mei 2019
Merayakan Kehancuran
Mengakui bahwa segala sesuatu sedang menuju kehancuran itu jauh lebih baik daripada terus-menerus menipu diri dengan sugesti waralaba semacam "semua akan indah pada waktunya", atau "hari esok kan lebih baik".
Dengan kata lain, mending mempersiapkan diri untuk melewati kerusakan demi kerusakan yang sedang dan akan terjadi ketimbang terus-menerus menyakiti diri sendiri dengan harapan dan angan-angan yang tak bersandar pada kenyataan.