Selasa, 11 Juni 2019

Bias Gaya Hidup

Kebutuhan hidup beda dengan gaya hidup. Tapi di zaman kiwari kebanyakan orang menjadikan gaya hidup sebagai kebutuhan hidup. Itulah sebabnya sering kita jumpai orang-orang yang hidup berlimpahan harta, pendapatannya tumpah-tumpah, masih saja selalu merasa kurang, gampang frustrasi, dan melulu didera derita, hingga akhirnya melakukan perbuatan yang melampaui batas kewajaran: menyakiti orang lain atau bunuh diri.
Share:

Fakta Fanatika

Fakta tidak penting bagi mereka yang fanatik buta. Karena kebenaran, buat mereka, hanya didasarkan atas rasa suka atau tidak suka, dan bukan atas keilmuan dan kebajikan. Maka tak perlu membuang waktu dan tenaga untuk berdebat panjang lebar dengan orang semacam itu, sebab yang demikian sama saja dengan menabur gula di laut lepas: percuma dan sia-sia. 

Share:

Warisan Utang

Mewariskan kemiskinan itu buruk. Tapi mewariskan utang jauh lebih buruk. Karena itu sama dengan menjerumuskan anak-cucu ke jurang penderitaan hidup yang dua kali lipat jauh lebih dalam. Selain dituntut membebaskan diri dari kemiskinan, mereka juga dihantui daftar tagihan pembayaran.

Share:

Menyangsikan Politisi

Dua tambah dua hasilnya empat. Namun jika itu diucapkan oleh politisi maka berusahalah untuk menyangsikannya. Ini bukan soal kebenaran-kesalahan dari mekanisme logika yang berlangsung, tetapi karena kita sudah sama-sama tahu bahwa di setiap ucapan dan tindakan politisi selalu ada kepentingan terselubung di baliknya.

Share: