Selasa, 07 Mei 2024

Depresi Pagliacci

Ada seorang pria ke dokter mengaku menderita depresi. Ia merasa dunia terlalu penuh dengan ancaman. Ia ingin sang dokter bisa mengobatinya. Sang dokter santai saja menjawab, itu mudah, pergilah ke kota, ada seorang komedian hebat yang bisa membuatmu senang dan tertawa sepanjang waktu. Namanya Pagliacci.

Mendengar itu si pasien malah menangis. Dengan sendu ia berkata: Akulah Pagliacci.

(Disadur dari film Watchmen, 2009)
Share:

Senin, 06 Mei 2024

Kegagalan Mencapai Inti Agama

Jika kita sepakat John Perkins bahwa inti agama besar dunia adalah keadilan sosial, secara implisit kita juga sepakat bahwa orang-orang yang mengaku diri beragama tetapi tidak memunyai hasrat atau kegandrungan pada keadilan sosial adalah orang-orang yang gagal meraih inti agama. Bukan begitu?

Share:

BAHAYA JIKA YANG MENJADI MAYORITAS ADALAH ORANG BODOH

Amatlah benar kata kaum cerdik pandai, jangan remehkan orang-orang bodoh yang berkerumun dalam jumlah banyak. Terutama di negara demokrasi yang secara prinsip rakyat berkuasa. Akan sangat berbahaya jika yang jadi mayoritas adalah yang kemampuannya dalam bernalar dan berpikir rasional jauh dari kompeten. Berabe!

Share:

ORANG YANG MENGUNGKAP DIRI LEWAT OBSESI DAN NEGASI YANG BERLEBIHAN

Orang yang ngebet pengin dihormati biasanya adalah orang yang justru tidak layak dihormati. Sementara orang yang sangat tidak menerima penghinaan biasanya adalah orang yang memang dari awal sudah lebih dulu menghinakan diri sendiri.

Kebenaran seringkali terungkap pada sikap seseorang yang berlebihan dalam menampakkan obsesi atau negasinya terhadap orang lain.

Share:

Jumat, 26 April 2024

Berhenti di Boomer

Semoga status merasa paling berjasa dan kebaikannya takbisa dibayarkan dengan harta sebanyak apa pun itu tamat di diri para boomer. Kiranya milenial, gen z, dan angkatan jaman selanjutnya tak mewarisi mental kalkulatif seperti itu.

Bahwa segala yang diberikan orangtua ke anak itu pada dasarnya kewajiban dan bukan pengorbanan. Bahwa orangtua harus banting tulang, bersusah payah, kerja siang-malam untuk menghidupi anaknya, semua adalah bagian dari konsekuensi logis atas pilihan mau berketurunan.

Maka, silakan berinvestasi pada emas, tanah, rumah, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain … tapi jangan pada anak. Sebab mereka bukan aset. Mereka manusia otonom yang punya takdir dan jalan hidup sendiri.

Share: