Jumat, 03 Maret 2017

Penyair adalah Nabi

"Aku ingin menikmati kepedihan ini, dengan cara paling rahasia, yang airmata pun tak akan pernah bisa merasakan kesakitannya."

Membaca larik sajak @Bemz_Q di atas membuat saya semakin yakin bahwa penyair adalah nabi. Wabil khusus terhadap sajak di atas, sungguh membawa pembayangan saya pada perjuangan para nabi yang penuh kesakitan dan kepedihan yang teramat dalam, kepedihan ... yang airmata pun tak akan pernah merasakan sakitnya. 

Mungkin bisa dikata, penyair adalah penyair dan nabi tetaplah nabi. Tapi di dalam penghayatannya terhadap perasaan dan kehidupan, penyair dan nabi tak ada beda. Sama-sama menyimpan rahasia yang bahkan dirinya sendiri pun tak mengetahuinya. "Karena cinta telah sembunyikan pisaunya," demikianlah kata penyair Rendra.
Share:

Haji Selfie

Di Mekah dan Madinah, frekuensi selfie lebih tinggi daripada haji. Ruang komunikasi manusia dengan Tuhan dipangkas oleh "bagikan". 

Alih-alih berhaji, mereka justru jadi manusia mubazir. Ibadah bukan lagi sebagai kebutuhan ruhani tetapi sebagai pemuas gengsi dan kelas diri. Rasa-rasanya momen peribadatannya tak sempurna kalau tak diabadikan dan dibagikan ke khalayak ramai. Padahal publik sebenarnya tidak perlu-perlu amat dengan aktivitas mereka.

Sehingga yang ada: narsisme dibungkus dalam bentuk religius. Sekaligus penyakit jiwa narsisnya dispiritualisasi sebagai rukun tertinggi, yang paling ilahi. Ibadah sebagai perjalanan sunyi berubah menjadi fenomena haha-hihi.
Share:

Seonggok Jagung

Mengerti kehidupan tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Yang penting menghayati setiap persoalan dan mengetahui kebutuhan masyarakat.

Percuma sekolah tinggi-tinggi--jauh-jauh sampai ke luar negeri--kalau tak menyatu di dalam pergaulan masyarakat dan kehidupan. Sebab, meminjam larik sajak Rendra, "Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja [jika] ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: 'disini aku merasa asing dan sepi.'”
Share: