Jumat, 03 Maret 2017

Ketika Maksud Diketahui, Kata-Kata Tak Dibutuhkan Lagi 2

Kata-kata itu cuma salah satu komponen dari bahasa. Dan bahasa itu, secara sederhana, adalah media untuk menyampaikan maksud dari subjek komunikator kepada komunikannya. Maka yang terpenting dari bahasa bukanlah kata-katanya, melainkan maksudnya. Kalau kita sudah memahami maksud, kata-kata tak dibutuhkan lagi. 
Share:

Ketika Maksud Diketahui, Kata-Kata Tak Dibutuhkan Lagi

Jangan terlalu menghamba pada kata-kata sebab tak semua hal bisa dijelaskan oleh kata-kata. Bahkan setiap kata pun memiliki lebih dari satu makna di dalam dirinya sendiri. 

Maka jika ada orang-orang yang berdebat, bahkan bertikai, tentang sebuah kata-kata berikut maknanya, kita tak perlu ikut-ikutan terlibat di dalamnya. Cukup pahami konteks saat perkataan itu dibuat dan yang paling penting: ketahui, minimal mendekati, maksud dari si pengata tersebut. Sebab jika kita mengetahui maksud si pengata maka kata-katanya sudah tak dibutuhkan lagi.
Share:

Berciuman Lebih Baik Dibanding Bermusuhan

Lebih baik bertukar ciuman daripada bertukar kebencian. Yang pertama melahirkan kemesraan, yang lainnya mempertajam kesenjangan.

Tidak ada gunanya bermusuhan. Memusuhi hanya membuatmu mudah emosi dan cenderung merasa sepi dan sendiri. Tak ada ketentraman di dalam permusuhan. Batin dan pikiran rusak, mudah sakit, mudah marah, rentan stress, dan lain-lain. 

Yang jelas: dimusuhi itu pasti. Memusuhi itu pilihan. Marah dan benci itu reaksi alami. Memarahi dan membenci itu soal menyikapi. Maka berhentilah membenci dan memusuhi, lebih baik berciuman dengan kekasih.
Share:

Penyair adalah Nabi

"Aku ingin menikmati kepedihan ini, dengan cara paling rahasia, yang airmata pun tak akan pernah bisa merasakan kesakitannya."

Membaca larik sajak @Bemz_Q di atas membuat saya semakin yakin bahwa penyair adalah nabi. Wabil khusus terhadap sajak di atas, sungguh membawa pembayangan saya pada perjuangan para nabi yang penuh kesakitan dan kepedihan yang teramat dalam, kepedihan ... yang airmata pun tak akan pernah merasakan sakitnya. 

Mungkin bisa dikata, penyair adalah penyair dan nabi tetaplah nabi. Tapi di dalam penghayatannya terhadap perasaan dan kehidupan, penyair dan nabi tak ada beda. Sama-sama menyimpan rahasia yang bahkan dirinya sendiri pun tak mengetahuinya. "Karena cinta telah sembunyikan pisaunya," demikianlah kata penyair Rendra.
Share: