Jumat, 29 September 2017

Sisifus Perubahan lewat Pemilu

Di dalam kehidupan bernegara yang perubahannya hanya bisa ditentukan oleh penguasa, kita hanya bisa berjuang dan bersuara lewat pemilihan umum (pemilu). Kalau kita kecewa pada penguasa yang satu, kita bisa menggantinya dengan penguasa lainnya lewat pemilu. Kalau masih mengecewakan juga, kita bisa mencari penguasa lain di pemilu selanjutnya. Kalau masih dikecewakan lagi, kita bisa menggantinya lagi dengan penguasa yang lain di pemilu selanjutnya lagi. Dan begitu seterusnya kita lakukan berulang-ulang sampai memasuki usia uzur dan mati. Sampai angin tak kedengaran lagi*. Sampai nasi padang dijual di KFC.

*dikutip dari larik sajak Goenawan Mohammad yang berjudul "Di Beranda ini Angin tak Kedengaran Lagi"
Share:

Negara Perusahaan

Praktik negara saat ini tak lebih dari sekadar perusahaan. Karena yang dikerjakan hanyalah menjual aset, negosiasi saham kepemilikan, mengajak kerja sama negara lain untuk datang berikut berinvestasi di negaranya, berhutang pada negara lain, dan sebagainya, dan seterusnya.

Jelas itu tak ada kaitan apa pun dengan kepentingan rakyat. Tak ada hubungannya dengan perjuangan mengangkat harkat martabat hidup rakyatnya. Tak ada urusannya dengan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Praktik "negara perusahaan" yang demikian itu justru membuat harga diri bangsa semakin ludes. Mendegradasi diri menjadi pengemis. Menengadah tangan pada negara lain. Dianggap kerdil oleh negara lain. Dan jelas, tak senafas dengan semangat berdikari yang dikumandangkan proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia, Sukarno.

Share:

Bunga Tidur Anarkisme

Sejujurnya, manusia itu tidak menyukai peraturan, apalagi diatur-atur. Maka ketimbang bernegara, anarkisme justru sesungguhnya lebih dekat dengan fitrah manusia.

Anarkisme bukanlah barbarisme atau vandalisme. Sebab kesetaraan dan jaminan kesejahteraan setiap orang adalah bagian dari tujuan anarkisme. Seperti kata Alexander Berkman, di dalam anarkisme tidak ada siapa yang memperbudak siapa. Setiap orang harus hidup layak dan merdeka.

Anarkisme bukanlah seperti yang didefinisikan media massa kebanyakan saat ini. Itu keliru. Rabi-rabi anarki tidak menganjurkan yang demikian. Anarkisme itu kemerdekaan secara kaffah. Kalau kata Bakunin, anarkisme berarti kemerdekaan mereka adalah kemerdekaanku.

Tapi memaksakan anarkisme adalah sesuatu yang sukar dan hampir tak masuk akal saat ini. Sebab—mengutip Emma Goldman—"institusi negara adalah kekuatan yang telah beratus-ratus tahun memperbudak massa melalui penguasaan psikologi massa."

Kita sudah kadung terbelenggu oleh ilusi negara. Membayangkan hidup tanpa negara seperti membayangkan kiamat tiba. Padahal, esensinya negara itu sudah tidak ada. Negara yang kita sebut negara saat ini, de facto, tak lebih dari sekadar perusahaan.

Jadi, lebih baik tidur saja dan biarkan anarkisme tumbuh menjadi bunganya. Kalau terlalu serius juga bisa bahaya; bisa stres, bahkan stroke. Ya, anarkisme itu penting, tapi kalau diperjuangkan dalam keadaan sakit ... ya gak lucu juga.
Share:

Jumat, 22 September 2017

Rakyat Butuh Uang, Bukan (Janji-Janji) Perubahan

Dalam setiap peristiwa politik yang melibatkan rakyat, hanya sedikit yang dilakukan karena inisiatif, kebanyakan disebabkan oleh insentif.

Apalagi dalam momentum politik yang gebyar, hampir mustahil terwujud bila rakyatnya tak terlebih dahulu dibayar. Sebab di zaman yang segalanya serba praktis dan instan namun di saat yang sama kehidupan rakyat serba berkekurangan, orang lebih butuh uang ketimbang janji-janji perubahan.
Share: