Sabtu, 31 Maret 2018

Semakin Tahu Semakin Tak Tahu

Terlalu banyak informasi yang beredar justru malah membuat orang jadi reaktif atau reaksioner; gampang berkobar oleh keberlimpahan informasi itu sendiri. Reaksioneritas itulah salah satu yang dimaksud Jean Baudrillad dalam pernyataannya: "Kita adalah budaya ejakulasi dini." Bahwa semakin kita tahu banyak hal, semakin kita tak tahu apa-apa. Seperti menderas air dari keran ke gelas: semakin deras, semakin bertumpah ruahlah seluruh isi di dalam gelas itu.
Share:

Jumat, 30 Maret 2018

Peradaban Dangkal

Di zaman yang super materialistik ini orang bisa melakukan apa saja demi iming-iming uang, harta benda, dan segala yang hari ini didefinisikan sebagai "mapan", "sukses", dan "kaya raya". Tak heran orang bisa menipu keluarganya, memakan bangkai saudaranya, menjual anak-istrinya, menggadai agamanya, hingga melecehkan Tuhannya demi pundi-pundi materi.

Pokoknya, orang-orang yang demikian itu hanya berpikir yang penting bisa berjaya dan tertawa terbahak-bahak di dunia meski harga dirinya tak ada dan nuraninya ia hina. Pun dalam hal bernegara, demi ilusi kemajuan dan berhala pembangunan, tak masalah bila mereka harus menjadi pengemis, tukang utang, dan budak bagi bangsa lain.

Sungguh peradaban yang dangkal!
Share:

Jangan Kerdilkan Agamamu oleh Perilakumu Sendiri

Jangan kerdilkan agamamu dengan selalu menyertakannya dalam kekerdilan dirimu. Sebab orang akan menghakimi baik-buruknya agamamu tergantung baik-buruknya kamu. Dalam kehidupan sosial, yang menjadi imbas penghakiman dari setiap perbuatan kita adalah atribut yang suka kita bawa-bawa ke arena sosial. Umumnya tak hanya agama, melainkan juga suku, ras, golongan, dan keluarga, khususunya orangtua. Semua akan kena imbas penghakiman sosial. Jadi alangkah eloknya bila kita terlalu sesumbar dan mengatasnamakan ini itu dalam setiap tindakan dan perbuatan kita sehari-hari.
Share:

Kamis, 29 Maret 2018

Pemilihan Rakyat

Kalau ada pemilihan presiden, maka perlu ada juga pemilihan rakyat, ialah cara untuk mendapatkan rakyat yang betul-betul layak menjadi rakyat. Sebab, sebagaimana aforisme saya dua abad yang lalu: "Tanpa nalar masyarakat yang cukup, negara hanyalah kerlip lampu menuju redup."Bahwa kebenaran dalam kehidupan sosial itu mestinya bukan ditentukan oleh suara terbanyak, tapi suara terlayak. Karena kalau dasarnya cuma suara terbanyak, akan fatal jadinya bila yang bersuara itu bukan orang-orang yang kompeten--yang tak punya penalaran yang baik.

Saya tahu betul kualitas pikiran orang-orang macam Roni Madura, Samiun Lola, Suryadi Cimol, dan lain-lain yang, maaf saja, mereka tak punya kompetensi nalar yang oke dalam memilih pemimpin. Saya menghargai orang-orang macam Roni Madura, Samiun Lola, Suryadi Cimol, dan lain-lain sebagai pribadi. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun kepada mereka, untuk dilibatkan dalam pemilihan pemimpin agaknya mereka belum layak.

Yang harus dicamkan, kedaulatan rakyat dalam hal bernegara itu bukan soal sekadar punya hak untuk masuk ke kotak suara, tapi punya kewajiban untuk diperjuangkan nasib hidupnya oleh negara. Prinsipnya, tujuan paling fundamental dari kemerdekaan suatu bangsa dan dibuatnya suatu negara adalah untuk memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan rakyatnya. Initinya, selama rakyat belum berdaulat maka itu artinya negara belum benar-benar berhasil menjadi negara.

Bahwasanya kedaulatan negara adalah kedaulatan rakyatnya, bukan pejabat, penguasa, dan partai politiknya. Maka selain pemilihan presiden, perlu kiranya diselenggarakan juga pemilihan rakyat agar terpilih rakyat-rakyat yang tepat untuk menjadi rakyat. Rakyat yang bisa membantu negara dalam mewujudkan cita-cita berdikari, berdaulat, adil dan makmur.





Share: